Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu

USAI sudah pesta demokrasi Pilpres 2009 yang berlangsung pada Rabu 8 Juli lalu. Hasilnya belum diumumkan karena masih dalam proses penghitungan. Meski begitu, hasil sementara pasangan yang menang dan yang kalah sudah bisa diketahui.
Menang atau kalah dalam kompetisi atau perlombaan merupakan keniscayaan, tak terkecuali dalam pemilihan presiden. Namanya saja pemilihan. Yang dipilih tak cuma satu sehingga dari proses itu ada yang menang karena dipilih orang banyak dan ada yang kalah karena pemilihnya minim.
Ada ungkapan, menang jadi arang kalah jadi abu. Ungkapan berupa peribahasa ini sejatinya merupakan nasihat kepada orang yang suka berkelahi tanpa arti, misalnya parebut kabogoh. Tegasnya, berkelahi itu perbuatan sia-sia, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu. Sama-sama genghek terbakar nafsu. Makanya, sesama teman dan sesama partai jangan berkelahi. Nah, kalau berkelahi ngalawan bagong mah itu bagus biar flu babi tak merebak. Bagaimanapun, flu babi tak sejinak flu bibi.
Lalu, apakah pemenang pilpres bakal jadi arang dan yang kalah jadi abu? Pasti ente-ente ngambek and berontak. Gila lu? Emangnya pilpres itu di atas ring tinju saling jotos saling bogem? Itu hak Anda bicara. Namun, fakta cumarita, saat kampanye, saat debat, para calon –baik capres maupun cawapres–  terbukti saling ledek, saling caci, meski tidak saling adu panco. Bukankah itu sama  dengan berantem alias gelut? Bedanya yang gelutnya mulut.  Andai KPU membolehkan mereka adu jotos di atas ring tinju, pasti rame euy!
Hemat sim kuring mah, yang menang dan yang kalah dalam pilpres pun sama-sama genghek alias sempat terbakar emosi. Dampaknya, ya yang menang jadi arang yang kalah jadi abu.
Meski begitu, dalam konteks ini, baik yang menang jadi arang maupun yang kalah jadi abu, sama-sama kudu atoh sebab bernilai positif. Arang itu amat berguna euy! Lihat tukang sate, pedagang ayam dan roti bakar, mereka membakar jualannya di atas bara arang. Sami mawon dengan abu. Karena jasa penjual abu gosok, ibu-ibu sumringah karena cucian pring bekas gulai tak bau amis lagi.
Nah, baru  yang menang jadi arang dan yang kalah jadi abu dari pilpres ini berkonotasi negatif, jika pemenang nambah utang yang harus dibayar rakyat  (kalau dipangmayarkeun mah okay-okay saja), sementara yang kalah bisanya cuma berkoar, puas siah.
Merdeka!***

Belum Ada Tanggapan to “Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: