Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

Orgil pun Manusia!

 BARU saja kita  memiliki pemimpin baru pascapemilu 2009. Betul, pemilu untuk memilih  para pemimpin bukan  paranormal atau parawan. Mereka, adalah orang-orang terpilih yang akan duduk di lembaga yang disebut legislatif dan eksekutif.
Barangkali, tak perlu kami maknai lagi apa itu legislatif dan eksekutif. Yang pasti, legislatif artinya bukan lapis legit meski di  situ mereka bisa berebut  kue yang serbaenak serupa kue lapis legit. Misal, kue studi banding (formalnya) yang sejatinya studi mancing, kemping, bahkan gambling. Ada juga kue kantuk yang wajib santap ketika rapat sehingga ketika  pimpinan sidang berbusa-busa pidato, para wakil rakyat itu nyenyak mendengkur. Emang,  buka kuping lebar-lebar  mendengarkan pidato pimpinan sidang apa perlunya. Toh dengan menyantap kue kantuk pun uang saku, uang dompet, uang makan, uang minum, dan uang itu inih lainnya  sudah dikantongin. Bukankah cita-cita semula juga menjadi kaya raya?
Pun eksekutif, artinya bukan  eksekutu atau mantan tentara sekutu pada zaman Perang Dunia yang sukses menyengsarakan rakyat sejagat.Namun, soal menyengsarakan rakyat mah para eksekutif juga jagoan. Maaf, maksudnya oknum. Saat mengeksekusi  paksa duit rakyat alias  korupsi, para oknum di negeri ini belum mampu bersolo karier karena ternyata  masih bersekutu dengan predikat amat moralis, korupsi berjemaah. Duh malu-maluin euy.  Emang, salat berjemaah  merupakan amal terpuji, tetapi korupsi berjemaah, baik di kalangan oknum eksekutu maupun lapis legit eh eksekutif maupun legislatif, sungguh terkutuk.
Lajimnya punya sesuatu yang baru, tentu kita pun senang  punya pemimpin baru. Makanya, selamat, selamat wahai para pemimpin baru negeriku, jangan sampai celaka. Sebab, kalau celaka bagaimana bisa mengurus rakyat, bukan? 
Adalah fakta, negara kita masih terseok-seok menggapai kesejahteraan bagi rakyatnya. Ya, bagi rakyatnya da para pemimpin dan pejabat mah sudah pada kaya.  Rakyat berduyun-duyun cari fulus ke negeri orang dengan harapan menjadi miliuner. Apa daya, maksud hati plus kaki kaya raya, nyatanya malah merengkuh kisah pilu. Itulah  para TKW dan TKI. Kalau mereka ditanya, bagaimana negerimu? Jawabnya pasti  subur makmur, kenapa tidur tak berkasur? Karena kasurnya abis diborong   pejabat kaya raya.
Singkatnya, lapangan pekerjaan dengan hasil  mucekil di negeri ini masih  timpang. Tak heran generasi muda mudah frustrasi. Betapa tidak, pamer hidup glamour melalui media massa begitu membombardir kayak peluru Densus 88 membasmi teroris. Maka,  anak-anak harapan bangsat, eh bangsa itu lari ke pola asuh narkoba, ngegeng,  dan premanisme. Ihwal geng motor seperti yang marak di Bandung dan beberapa kota besar lainnya di Jabar, sungguh membahayakan jika dibiarkan. Bayangkan, dengan geng motor saja mereka berulah binal dan brutal, bagaimana kalau mereka ngegeng  dengan  truk  tronton, buldozer, dan kapal terbang?
Itulah beberapa persoalan dari sekian banyak persoalan negeri ini yang sejatinya merupakan harapan lama rakyat untuk diatasi meski faktanya setiap kali berganti pemimpin tak pernah terpecahkan. Dengan enteng mereka  berkilah, “Emang telur, dipecahkan?”
Oleh karena itu, penjaga  rubrik Tajuk Bercanda  kali ini  bukan  bercanda jika meminta  para pemimpin  baru tak usah berbaju baru, jika belum dilunasi dan bila rakyat masih berbaju kumal. Eggak usah menduduki kursi baru jika pantat bisulan dan korban gempa masih berteduh di bawah tenda. Jangan bermobil baru jika rakyat masih berdesak-desakan naik kendaraan umum. Dan, jangan sekali-kali punya wanita simpanan baru, jika istri lama masih cantik bahenol nerkom. Ingat, kini bukan lagi zaman Orde Baru.
Selesaikan dahulu persoalan-persoalan lama rakyat meski bukan berarti untuk come back ke Orde Lama.
Akhirul canda, peduli amat dengan orde. Yang harus  dipedulikan justru  orgil. Tahu ‘kan orgil? Ya, orgil adalah akronim dari orang gila. Gamblangnya, perhatikanlah derita rakyat yang karena problematika hidupnya tak kunjung terselesaikan akhirnya menjadi orgil?  Sadari, sejatinya kehadiran orgil itu tak lain karena para pemimpin yang juga jadi orgil. Bedanya, rakyat kecil depresi dan stres  gara-gara kesulitan mendapatkan uang, para pemimpinnya  justru mengeruk duit rakyat gila-gilaan untuk merealisasikan ambisi gila hormat, gila tahta, gila harta, gila wanita, dan bla bla bla.
Yang pasti, orgil pun manusia, seperti Anda juga.  Akhirul canda kedua kalinya, haruskah negeri ini dibiarkan berpenghuni orgil semua? Apa kata dunia?
Merdeka!***

Belum Ada Tanggapan to “Orgil pun Manusia!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: