Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

Esek-esek Binal (2)

Disangka Pria Idaman
Tahunya Bajingan

FENOMENA esek-esek binal di jaman superedan ini memang kian grazy. Kaum hawa harus waspada kalau tak ingin menjadi korban kebiadaban pria  belang segala-galanya ini.  Saking gelonya penghobi esek-esek binal, jangankan cewek kece alias cantik.  nenek-nenek pun disantap abis.  Apalagi Ny Sit (27),  janda geulis baru beranak satu,  kiranya tak heran kalau harus mengalami nasib naas menjadi kebrutalan  wong petualang esek-esek binal.

Bagaimana ceritanya? Inilah dia. Pada Jumat  malam (2/10/2009), Sit warga Pekayon Bekasi ini baru pulang dari rumah temannya di Desa Pliken Kembaran Banyumas. Ia bermaksud  melanjutkan perjalanan ke rumah saudaranya di Solo.  Dari Terminal Bus Purwokerto korban naik bus dan turun di pertigaan Karanglewas menuju Stasiun  KA Purwokerto.

Saat itulah muncul seorang jalu yang punya otak ngeres jika melihat cewek ayu end beautiful.  Dialah  Sug (31), penduduk Kel. Purwokerto Selatan. Melihat cewek malam-malam sendirian, nafsu esek-esek binalnya mendadak dangdut. Semula, ia bernafsu ingin santap langsung bagai kucing mengendus tikus. Namun, mengingat dan menimbang besar resikonya, ia menyimpulkan harus pakai trik end strategi  biar keinginannya kesampaian.

Maka, sejenak dia putar otak. Tak sulit. Dalam sekejap ia sudah punya strategi jitu untuk menaklukkan wadon cantik ini. Trik pun dimulai. Dia mendekati Sit untuk berkenalan dengan modal tampang yang dibikin sealim ustaz. Sukses pedekate,  Sug langsung berfatwa. “Kagak baek cewek keluyuran malam-malam Neng. Bagaimana kalau ada orang jahat? Yuk Mas antar,” ujarnya, adem.
Perasaan Sit sempat galau antara percaya dan tidak bahwa di  zaman edan ini masih ada stok pria idaman yang dengan rela menawarkan jasa baik untuk mengantar.  Pikir Sit, penolong wanita yang tengah kesulitan  emang  pria bukan drakula. Singkat cerita, Sit menyambut baik tawaran Sug.

Hati Sug sorak sorai saking bungah karena umpannya sudah dapat mangsa. Saking gembira, sembari berjalan Sug tak sungkan-sugkan memegang lengan Sit. Sit pun terkadang mendiamkannya meski sesekali dilepeskannya. Maklum tak ada perjanjian untuk saling berpegangan. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Sug mengajak berhenti lalu bilang bahwa pada jam-jam segini tak ada lagi KA.

“Jam segini mah kereta udah pada parkir, Neng!” ujar Sug dengan nada penuh belas kasih.
“Aku gimana dong?” Sit jelas kebingungan.
“Kagak usah bingung Neng,  bermalam aja di rumah Mas, gratis lo!” Lagi-lagi si tokoh esek-esek binal kita menawarkan jasa baiknya. 

Semula Sit akan menolak. Namun, karena Sug kelihatannya pria baik-baik alias pria idaman dan malam sudah beranjak larut serta takut disangka menolak kebaikan orang,  Sit  pun lagi-lagi menerima jasa baik  Sug.

Di rumahnya, untuk beberapa saat Sug masih berwajah manis. Imut-imut gitu lo. Layaknya menghadapi tamu, Sug cakah-cikih menyediakan semacam jamuan. Ada jamuan istimewa berupa minuman. Saking ingin menyenangkan tamu istimewanya, Sug tak hanya menyuguhkan air tawar putih. Benaknya bergumam, “Masak menjamu  tamu cuma air putih doang? Malu-maluin aja!” Maka, ia pun menyuguhkan minuman istimewa bagi tamu janda bahenol nerkom ini. Tak tanggung-tanggung ia menyodorkan miras alias minuman keras. Mungkin maksud Sug agar tamunya cepat tidur pulas untuk melanjutkan  perjalanan esok hari.

Benar juga. Tak lama kemudian, Sit yang tak curiga atas minuman yang disuguhkan Sug karena memang warnaya putih seperti air tawar biasa, ia teguk minuman itu seperti ia meneguk air putih biasa. Maklum di jalan ia tak mendapatkan minuman. Dampaknya cespleng, saat itu juga Sit tumbang dan langsung nyungsep tidur pulas tak sadarkan diri.

“Cihuy!” teriak pria idaman tinju ini setelah menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa janda bahenol ini sudah tergolek tak sadarkan diri. Di rumah nan sepi, tanpa ada siapa-siapa kecuali dia dan Sit,  kepribadian  Sug yang asli sebagai bajingan tengik, tampak. Bagaikan harimau mendapatkan kijang jinak, Sug tak membiarkan mangsanya tak sadarkan diri berlama-lama. Saat itu juga ia menodai tubuh molek Sit dengan tenangnya tanpa harus takut digrebek hansip. Esek-esek binalnya ia lampiaskan bagaikan panah lepas dari busurnya tanpa kendali.

Usai itu, Sug keluar rumah sembari bersiul senandung riang. Beberapa saat kemudian,  Sit baru siuman. Dia terkaget-kaget ketika bangun seluruh tubuhnya serasa habis dipijit-pijit dinosaurus. Remuk redam. Lebih kaget lagi ketika ia sadar tubuh moleknya sudah TB alias tanpa benang secuil pun. Ia baru sadar telah terjadi sesuatu pada dirinya. Sontak ia bangkit dan mengenakan busana yang telah terlucuti lalu berniat kabur. Sial, pintu rumah dikunci dari luar.  Ia duduk tercenung bingung apa yang harus dilakukan. Terbayanglah wajah alim Sug yang semula dikira pemuda idaman tahunya bajingan. Ia ingin menangis sejadi-jadinya. Tak lama kemudian pintu rumah terkuak. Ternyata si bajingan yang datang. Sontak Sit mencak-mencak dan saat itu juga akan kabur. Namun, bukan srigala namanya kalau membiarkan mangasanya lepas begitu saja. Nyatanya,  Sug  — srigala berbulu domba  ini– malah menghalang-halanginya. Tak hanya itu, ia minta jatah ronde berikutnya. Entah karena ronde pertama tadi belum tuntas atau bagaimana. Keruan, kini Sit benar-benar amat marah dan  menolak ajakan Sug. Kalau tadi ia berikan segalanya kepasa Sug karena tak sadarkan diri akibat dicekoki miras, kali ini ia melawan. Orang Sunda bilang, teu sudi abrig-abrigan teu suka abrag-abragan.

“Emang gue cewek murahan? Emang gue apaanmu? Emang gue jande, tetapi bukan  berarti  bispak seenak burungmu!” Hardik Sit. Dikata-katain begitu, Sug bukannya malu, lalu tobat mohon ampun pada Sit dan Tuhan. Ini mah malah ketawa ngakak sambil berpornoaksi di depan Sit. Lalu, bagai banteng ketaton, ia memaksa Sit untuk melayani libido esek-esek binalnya dengan paksa. Serosa-rosanya tenaga  Sit sebagai perempuan, akhirnya ia menyerah dan kebobolan untuk kedua kalinya.

Habis manis sepah dibuang, Sit disuruh pergi oleh Sug. Sug tampaknya sudah benar-benar puas. Tinggal Sit yang merintih kesakitan di sekitar stasiun. Tangisan Sit diketahui petugas Polsuska Stasiun KA Purwokerto yang akhirnya menangkap pelaku masih di seputar stasiun. Kemudian diserahkan kepada  Satreskrim Polres Banyumas.

Tentu saja, di kantor polisi, Sug tidak akan diberi jatah ronde ketiga esek-esek binalnya, tetapi harus mempertanggungjawakan perbuatan bejat asusilanya dengan menerima hukuman. (Direka ulang oleh Fendy Sy. Citrawarga dari berita koran “Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta, edisi Senin 5 Oktober 2009).***

2 Tanggapan to “Esek-esek Binal (2)”

  1. ngakak gan, kaya ex COO gw


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: