Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

RELIGI: Hijrah “Long Life”

Oleh Fendy Sy. Citrawarga

TAK terasa,  kita telah meniti Tahun Baru Hijriah. Tepatnya, hitungan hijriah telah pindah dari 1430 menjadi 1431 dengan titian awal bulan Muharram.
Ada kegembiraan ketika pergantian tahun Hijriah yang bertepatan dengan 18 Desember 2009 kali ini, khususnya di kota-kota besar yakni ada semacam gairah penyambutan Tahun Baru Islam itu.
Selama ini umat Islam hanyut dalam merayakan Tahun Baru Masehi dengan adat budayanya yang mengiblat ke  Barat yang notabene bersifat hura-hura, arak-arakan, pesta pora yang menggiring pada sikap hedonistis bahkan maksiat. Sedangkan terhadap Hijriah, ingat pun tidak bahkan banyak yang tidak tahu. Padahal, bagi muslim, untaian waktu hijriah  berkaitan  erat dengan ritual ibadah baik yang wajib maupun sunah.
Sebenarnya, tak ada ketentuan syara bahwa kita harus menyambut apalagi merayakan pergantian tahun. Oleh karena itu, semoga apa yang dilakukan saudara-saudara kita dalam menyambut Tahun Baru Islam kali ini yang menurut laporan-laporan media tampak semarak dengan  berbagai acara, tidak tergolong pada ritual baru, tetapi lebih kepada upaya mengenalkan makna hijrah kepada kaum muslim terutama generasi penerusnya jangan sampai lebih tahu pergantian tahun Masehi daripada Tahun Baru Islam.
Oleh karena itu, penyambutan Tahun Baru Islam, tak ayal harus menggali makna dari hijrah itu sendiri di samping apa arti untaian waktu yang dijalani setiap muslim. Betapa tidak, kita tidak akan bisa melaksanakan salat Jumat jika tidak tahu kapan hari Jumat tiba. Kita tidak akan bisa melaksanakan saum Ramadan, jika tidak tahu kapan tibanya bulan Ramadan. Kita tidak akan bisa menunaikan ibadah haji yang ketentuannya erat sekali dengan bulan Dzulhijjah, jika kapan tibanya bulan itu tidak kita kenal. Maka, naif rasanya jika muslim  tidak hafal hari-hari dan bulan- bulan Islam, tidak seperti terhadap bulan-bulan  Masehi yang begitu hafal di luar kepala.
Menjadi kewajiban kita semua menyosialisasikannya sehingga tunas-tunas generasi muslim selanjutnya. tidak pareumeun obor (kehilangan jejak) sejarah hijrah.
Nilai lain yang tak kalah penting adalah  menggali hikmah dan iktibar atau pelajaran yang terkandung di dalamnya. Seperti telah kita ketahui, secara harfiah hijrah berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. ketika jihad membela dan  menyebarkan Islam. Seperti telah kita ketahui pula bagaimana beratnya perjuangan Rasulullah saw. dan kaum muslim  saat itu dalam menghadapi kaum kafir  Quraisy  Makkah. Kaum kafir begitu membenci nabi dan kaum beriman padahal mereka masih ada ikatan saudara. Mengapa hal itu bisa terjadi? Tak lain karena ajaran Islam yang disebarkan Rasulullah saw. dinilai  asing oleh kaum kafir sekaligus kontradiktif dengan ajaran nenek moyang mereka. Kaum kafir suka menyembah berhala, sedangkan Islam memerintahkan hanya menyembah Allah SWT. Mereka terbiasa hidup bebas dalam melampiaskan nafsu berahinya seperti seorang perempuan yang dapat “dipakai” oleh banyak pria, sedangkan Islam melarang berzina. Mereka pun tak ragu-ragu membunuh anak perempuan yang dinilai lebih rendah daripada anak laki-laki, sedangkan Islam melarang membunuh manusia baik pria maupun wanita tanpa sebab yang jelas, dan perbuatan-perbuatan jahiliah lainnya.
Begitu sengitnya gangguan kaum Quraisy sementara bendera Islam baru berkibar dan belum banyak pengikut sehingga  Allah  pun menurunkan pertolongan berupa perintah terhadap Nabi saw. dan kaum beriman untuk pindah (hijrah) dari Makkah ke Madinah atau dahulu disebut Yastrib. Di sini, hijrah berarti mengatur strategi yang bukan hanya kepiawaian intelektual, tetapi juga ditentukan oleh kondisi global saat itu. Bukan kalah, apalagi mengalah. Hasilnya, setelah pindah ke Madinah, bukan hanya Islam kian  berkembang pesat di tempat baru dengan terbentuknya masyarakat yang baru pula –populer dengan sebutan kaum Muhajirin (yang berhijrah) dan Anshar (pribumi Madinah, penolong)–, melainkan kelak mampu mengubah keadaan di Makkah sehingga Islam kian berkibar di berbagai tempat. Dalam riwayat, situasi ini disebut  “Futuh Makkah” atau kemenangan dengan terbukanya Kota Makah berikut kedamaian dan keamanannya bukan hanya bagi kaum muslim, tetapi bagi seluruh penduduk. Orang yang dahulu membenci dan memusuhi Nabi saw. tak segan-segan dimaafkan oleh beliau. Tak ada lagi ceceran darah meski sebelumnya sempat terjadi aneka “qital” .Sungguh merupakan proses perjuangan nan indah.
Itulah makna hijrah dalam arti fisik. Adapun hijrah dalam arti maknawiah tak lain adalah perubahan sikap dari perilaku buruk kepada perilaku yang baik. Seperti dalam hadis diterangkan bahwa keberhasilan hijrah bergantung pada niatnya.
“….Maka barangsiapa berhijrah semata-mata karena taat kepada Allah dan RasulNya, maka hijrah itu diterima oleh Allah dan Rasulullah. Dan barangsiapa yang berhijrah karena keuntungan dunia yang dikejarnya atau karena perempuan yang akan dikawin, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia niat hijrah kepadanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dari hadis di atas tampak jelas bahwa niat memegang peranan penting dalam meraih kesuksesan hidup. Setiap orang diberi kebebasan memilih jalan mana yang akan ditempuh sehingga hasilnya pun akan diraih sesuai dengan jalan yang dipilihnya sebagaimana dicontohkan dalam hadis. Dalam menapaki hijrah long life atau hijrah sepanjang masa sebagai upaya perubahan sikap dari yang buruk kepada yang baik secara terus-menerus, tentu saja niat yang kita canangkan semata-mata karena Allah dan Rasulnya meski jalan yang kita tempuh itu berkaitan dengan kehidupan dunia.
 Hijrah dalam makna perpindahan tempat tentu saja sangat situasional, tetapi hijrah dalam  pengertian perubahan sikap perilaku dari yang buruk kepada  yang baik tetap harus dilakukan tanpa memandang situasi dan kondisi. Ketika kita terjerumus ke lembah dosa, bersegeralah hijrah dengan cara bertaubat. Jangan menunggu lama, apalagi didiamkan begitu saja.
Berkaitan dengan itu, memperhatikan untaian pergantian waktu  yang notabene bukan hanya pergantian tahun, melainkan detik, menit, jam, dst., sama artinya dengan kewajiban kita berintrospeksi. Di antaranya memelihara kesadaran  bahwa hidup di dunia ini tidaklah baka, tetapi hanya sementara. Besok lusa akan kembali ke alam akhirat, membuka pintu mati dan menghadapi jelajah hidup di alam baka nan tak bertepi. 
Berkaitan dengan hijrah, Allah berfirman dalam Alquran  yang artinya:
Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan dirinya, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan mereka itulah orang-orang yang menang. Allah menyampaikan kabar gembira kepada mereka dengan rahmat, rida Ilahi dan surga, yang di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan yang kekal. (Surat At Taubah ayat 20 – 21)
Inilah buah dari hijrah yang ternyata modalnya adalah iman dan semangat jihad baik dengan harta maupun jiwa. Dahulu, Nabi saw. hijrah karena begitu berat menghadapi tantangan dakwah. Akan tetapi, dengan keimanan yang kuat, semangat jihad yang tangguh, niat semata-mata mengharap rida Allah, akhirnya berhasil.  Kita saat ini, hakikatnya menghadapi tantangan yang sama. Oleh karena itu, ikutilah jejak beliau dengan tetap mengandalkan iman sebagai fondasi dan semangat ruhuljihad dalam menghadapi tantangan hidup ini sehingga kita pun meraih pahala sebagaimana yang digambarkan pada ayat di atas.
Semoga.***

Belum Ada Tanggapan to “RELIGI: Hijrah “Long Life””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: