Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

RELIGI: Infotainment Haram?

Oleh Fendy Sy. Citrawarga

BARU-BARU ini Ketua  PB NU, Hasyim Muzadi, mengeluarkan fatwa yang berisi pengharaman terhadap infotainment. Pernyataan orang nomor satu di NU itu kemudian mendapatkan dukungan  dari Menteri Agama, Suryadharma Ali.
Televisi kita, khususnya swasta, awal dekade 90-an marak dengan tayangan berita yang kemudian dikenal dengan sebutan infotainmet. Subjek info atau beritanya seputar para artis baik yang sudah ngetop maupun baru nongol. Sebagai publik figur tentu saja para artis menjadi sumber berita penting dan mendapat respons  para penggemarnya. Apa pun yang diberitakan seputar artis itu, pasti dipelototin. Tak heran jika kemudian rating acara itu cukup tinggi. Pihak  TV berlomba-lomba menayangkan acara sejenis dan tentu saja  maraup untung dari iklan. Maka, tak heran pula jika hampir 24 jam tayangan infotainment itu senantiasa tersaji. Seiring dengan itu, muncullah wartawan-wartawan dengan predikat infotainment  yang seolah terpisah dari jurnalis atau wartawan umumnya meski tugasnya sama –meliput berita–. Bedanya, para infotainment itu sehari-harinya  memberitakan artis karena memang wadahnya juga khusus untuk para artis.
Kalau wartawan umumnya mengacu pada prinsip “jika anjing menggigit manusia bukan berita, tetapi jika manusia menggigit anjing adalah berita”. Artinya hanya berita-berita yang menarik  (news value)-lah yang layak muat di media massa. Contoh kecil, perceraian yang terjadi di masyarakat tak layak jadi berita karena hal itu sudah biasa. Sama halnya dengan anjing menggigit manusia. 
Tak demikian dengan para infotainment. Anjing menggigit manusia pun jadi berita karena anjingnya termasuk figur publik atau  yang digigit anjing itu seorang pesohor. Maka, hal remeh temeh pun bisa menjadi berita karena subjek pelakunya para esohor atau para artis. Ketika artis berduaan di tempat keramaian, muncul gosip ada ainlah, pacaralanlah. Ketika rehat shooting, lalu dua artis muda ngobrol-ngobrol, oleh infotainment digosipkan tengah menjalin hubungan khusus alias cinlok (cinta lokasi). Apalagi resepsi perkawinan dengan biaya wah, itu wajib tayang. Tak terkecuali ketika sudah menikah lantas si artis pisah ranjang hingga bercerai, infotainment wajib menayangkannya ke hadapan masyarakat. Kalau tidak, pastilah dimarahi bos. Apalagi artis yang tersandung kasus hukum. Singkatnya, meludah pun artis jadi bidikan infotainment.
Sampai di sini, persoalan masih wajar. Akan tetapi, belakangan berita-berita infotainment itu sungguh di luar dugaan kelajiman sebuah berita, misalnya kita ingat ketika perseteruan antara Kiki Fatmala dan ibunya.  Yang lainnya, kasus penistaan, perceraian, rebutan harta gana-gini, dan saling caci. Berita-berita itu dinilai tidak sehat lagi karena berisi fitnah dan ghibah atau teramat mengungkap kehidupan pribadi, rahasia rumah tangga yang mestinya jangan dibeber-beber kepada orang banyak. Wajar jika kemudian berbagai pihak merasa gerah yang intinya mungkin tertuju pada pertanyaan, “Apa manfaat berita infotainment bagi masyarakat kalau isinya cuma ghibah dan fitnah?”
Jadi, wajar jika baik MUI maupun tokoh ormas Islam seperti PBNU menentukan sikap bahkan Ketua PBNU langsung memvonis haram mengingat tayangan seperti itu boleh dibilang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatrnya meski secara bisnis jelas sangat menguntungkan baik bagi PH infotainment maupun pihak TV.
Haruskah diharamkan?
.Akan tetapi, haruskah sampai diharamkan? Mafhum fatwa itu tentu saja kata lain dari harus diberhentikan. Wong yang namanya haram itu merupakan sanksi hukum yang dalam Islam wajib dijauhi sebagaimana hukum  syara menyatakan bahwa haram itu jika dikerjakan mendapat azab dan jika ditinggalkan mendapat pahala. Sungguh merupakan sanksi hukum yang sangat berat. Siapa sih yang mau diazab?
Hemat penulis,  infotainment tak perlu diharamkan. Sebab,  persoalannya bukan terletak pada eksistensi infotainmet itu sendiri, melainkan  pada dua persoalan pokok, yakni perilaku artis dan penyajian infotainmet. Bagaimanapun, hubungan artis dan infotainment dalam khazanah budaya pop dengan ciri bisnis profesional  saling membutuhkan. Betapa tidak, tanpa publikasi yang notabene menggunakan jasa para jurnalis, para artis takkan  muncul ke permukaan. Pun infotainment takkan punya ciri ekslusivitas tanpa narasumber publik figur  artis.
Oleh karena itu, fatwa Ketua PB NU itu harus disikapi sebagai pelecut bagi kedua belah pihak. Sebagai bagian dari jurnalis, para wartawan infotainment harus konsisten terhadap kode etik jurnalistik maupun Undang-Undang Pers sehingga selektif memberitakan tanpa mengganggu privasi berlebihan. Para artis pun hendaknya menata diri, dalam arti cobalah berperilaku wajar dengan  menjadi panutan masyarakat. Misalnya, sedapat mungkin menjauhi perilaku buruk seperti kawin cerai, terjerumus narkoba, dll. Jangan tertipu dengan ungkapan, artis juga manusa. Bagaimanapun Anda termasuk manusia beruntung sebagai publik figur yang harus berbeda dengan masyarakat umumnya. 
Sekali lagi, infotainmet  yang makna asalnya hiburan tak semestinya diharamkan. Karena,  sejatinya  infotainment hanyalah wadah. Ibarat arak yang dituangkan pada gelas, tentu bukan gelasnya  yang  diharamkan, melainkan  meminum araknya. Kalaupun gelas mau dipersoalkan, ya tinggal cuci hingga bersih sehingga bisa digunakan sebagaimana mestinya. Infotainmet sama dengan jurnalis umumnya. Kalau mau diharamkan (baca: dihentikan),  ya pemberitaan  ghibah dan fitnahnya. Para artis pun seyogianya menjauhi perilaku yang dapat menimbulkan ghibah dan fitnah  karena memang dalam agama  pun fitnah dan ghibah itu tergolong amalan tercela. Mari kita renungkan dalil di bawah ini.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Quran surat Alhujuraat ayat 12).
 “Dari Abu Hurairah. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:Hati-hatilah kamu sekalian dengan hasud karena hasud (dengki) memakan hasanah (kebajikan) sebagaimana api membakar kayu.” (Hadis riwayat Abu Dawud).
“Dari Abu Hurairah. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: Jauhkanlah diri kamu dari berprasangka (buruk) karena prasangka (buruk) itu sedusta-dusta omongan.” (Hadis riwayat muttafaq ‘alaihi).***

Belum Ada Tanggapan to “RELIGI: Infotainment Haram?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: