Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

Esek-esek Binal (5)

KETIKA RANUM DIPISTOL  OOM JATEM

BAGI sebagian orang,  pensiun adalah momok menakutkan. Betapa tidak, ketika masih aktif bekerja dengan kedudukan dan jabatan, orang boleh menjadi raja. Oleh bawahan dihormati, oleh atasan diperhatikan, dan oleh keluarga amat diandalkan karena menjadi tulang punggung penghasilan. Akan tetapi, ketika tiba saatnya pensiun, semuanya berubah drastis. Orang yang tak mampu menerima kenyataan malah didera stres berat.
Terkadang terbayang masa-masa indah saat masih berdinas entah itu sebagai PNS maupun swasta apalagi sebagai pejabat negara. Tak terkecuali bagi purnawirawan. Ketika masih berdinas, saat gagah-gagahnya menenteng senjata, berseragam dinas, sungguh mengasyikkan. Siapa berani menghadapi aparat militer yang  selain ber-uniform mentereng plus wibawa dan pangkat serta senjata? Semua pada takut. Ingat zaman Orde Baru, seragam hijau sungguh menakutkan. Akan tetapi, setelah pensiun, bukan hanya senjata yang dilucuti, dikembalikan kepada rakyat sehingga tidak bisa main tembak dan gagah-gahan karena memang sudah saatnya undur makalangan, saatnya dijabat prajurit lain.
Lain halnya dengan purnawirawan yang satu ini. Kita sebut saja oknum purnawirawan TNI ini Oom Jatem (jago tembak). Usianya sudah sariak layung alias sudah tua bangka, tetapi semangat menembaknya ternyata masih prajurit  muda banget. Tampaknya ia begitu terkenang saat berdinas sebagai  prajurit TNI yang dipersenjatai.  Sayangnya, kini dia sudah tak bersenjata lengkap sebagaimana saat berdinas sehingga sasaran tembaknya pun dialihkan disesuaikan dengan senjata yang dimilikinya yaitu senjata berlaras pendek, tak lebih dari sejengkal, bahkan kalau lagi kedinginan mah murungkut kayak kapuk kehujanan.
Si Oom Jatem   ternyata kesengsem sasaran tembak anak bau kencur yang benar-benar masih lunak. Entah setan mana yang memberi Jatem ilham untuk menembak sasaran balita yang masih berusia 4 tahun ini. Nekatnya, si balita, sebut saja Ranum , justru masih tetangga Oom Jatem.
Tampaknya si Oom kagak mau repot-repot cari sasaran tembak ke tempat jauh. Boleh jadi faktor biaya atau apalah. Tampaknya pula, beliau berkilah, “Kalau ada yang dekat, mengapa harus susah payah cari yang jauh.”
Maka, si Oom Jatem yang penduduk Jalan Kenari Jaten Karanganyar ini mulai ngeceng Ranum untuk ditembak. Tentu saja ia tak gegabah. Dengan trik kadalnya, ia mengajak Ranum main-main, layaknya kakek mengajak jalan-jalan kepada sang cucu atau buyut. Ranum, tentu saja mau. Wong tetangga dan Jatem emang Mbah yang baik hati. Selain suka ngajak bermain, juga suka ngasih permen. Termasuk ketika tangan kekar Jatem cubit sana cubit sini, cowel sana cowel sini, elus atas elus bawah, bahkan sun pipi kiri sun pipi kanan, Ranum cuek saja, tak ada sursar-serser. Wong balita baru 4 tahun, mana mungkin ada emosi esek-esek. Yang dia rasakan, semua yang dilakukan Jatem hanyalah ungkapan belai kasih sayang seorang kakek pada bocah anak tetangga.
Termasuk ketika Oom Jatem menodongkan ‘pistol’ lalu ditembakkan ke bagian vital Ranum, bocah manis itu diam saja. Ia tak tahu, apa namanya aksi yang dilakukan Jatem yang tak pernah dilakukan oleh ayahnya meski sang ayah pun punya ‘pistol’ sebagaimana yang dimiliki Jatem. Sementara Jatem, sukses menembak Ranum tanpa ada gangguan yang berarti karena memang dilakukan di rumahnya sendiri.
Tak lama kemudian, ibu Ranum terkaget-kaget ketika Ranum kerap mengeluhkan rasa sakit pada alat kelaminnya. Curiga atas apa yang terjadi pada anaknya, saat itu juga Ranum dibawa ke dokter untuk menjalani pemeriksaan. Rasa kaget ibu ini kian menjadi-jadi ketika hasil pemeriksaan diketahui bahwa kelamin Ranum sudah robek kena tembak. Bagai disambar petir ia mendengarnya. Siapa yang usil melukai anakku? Pekik sang ibu. Usut-punya usut, Ranum menuturkan bahwa sebenarnya ia telah ditembak Oom Jatem, tetangganya itu. Ibu Ranum nyaris pingsan mendengarnya. Atas pengakuan Ranum, akhirnya Jatem dilaporkan ke Polres Karanganyar. Dalam  pemeriksaan, Jatem mengakui memang ia telah menembak Ranum sebanyak dua kali di rumahnya pada siang hari saat Ranum bermain di rumahnya. Tentu saja Jatem harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di muka hukum. (Direka ulang oleh Kang Fendy Sy. Citrawarga dari berita SKH “Kedaulatan Rakyat” edisi Rabu, 4 November 2009).***

Belum Ada Tanggapan to “Esek-esek Binal (5)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: