Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

RELIGI: BINA USAHA ISLAMI (1)

MAKNA KEUNTUNGAN BAGI MUSLIM

Oleh Fendy Sy. Citrawarga, B.A.

SIAPA pun kita, saat berusaha mencari nafkah, tentu sangat mengharapkan keuntungan. Jika berdagang, keuntungan itu berupa laba dari modal yang ditanam. Jika bertani, mengetam buah  dari bibit yang disemai. Jika menjadi pegawai, gaji besarlah yang diharapkan. Tak ada yang berharap mengalami kerugian, apalagi kebangkrutan. Hal itu merupakan naluri  insani dan sah-sah saja, tak terkecuali bagi  muslim.
Meski begitu, muslim dituntut waspada dalam meraih keuntungan berupa materi yang semata-mata untuk kepuasan hawa nafsu karena bisa menjerumuskan  ke  dalam jurang perbutan nista.
Faktanya, begitu banyak orang yang menyimpang dari jalan kebenaran untuk mendapatkan keuntungan seperti itu. Pedagang berani berbohong, pegawai tega  kongkalingkong, korupsi, manipulasi, dan akhlak-akhlak buruk lainnya. Itu semua terjadi karena mencari nafkah tak dibarengi  nilai moral yang bersumber pada ajaran Ilahi yang dicontohkan Nabi  saw.
Oleh karena itu, bagi muslim yang sungguh-sungguh memiliki keimanan sejati, dalam berusaha –khususnya menjelajahi dunia wiraswasta yang notabene konsepnya kemandirian–, harus waspada dari ranjau-ranjau seperti di atas agar usaha Anda menuai berkah dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Bukankah kita hidup ini mencari keselamatan? Sebagaimana doa yang kerap kita lantunkan, yaitu,  “Ya Allah, datangkan kepadaku di dunia kebajikan dan di akhirat pun kebajikan, serta jagalah kami dari api neraka.” Doa ini jangan cuma lantunan bibir, melainkan harus direalisasikan dalam amal perbuatan konkret.
Lalu, bagaimanakah langkah yang harus kita tempuh untuk itu? Mari kita renungkan ayat Alquran di bawah ini, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Surat Al Jumuah ayat 9).
Pada ayat ini mukmin diseru proaktif jika datang panggilan untuk beribadah kepada Allah SWT, salah satunya salat Jumat yang dilaksanakan seminggu sekali. Bersegeralah menemui Allah dan hentikan segala kegiatan duniawi, betapa pun pentingnya, betapa pun keuntungan materi amat menggiurkan. Mengapa harus segera? Karena, kesempatan beribadah cuma sekali, sedangkan kesempatan mencari rezeki masih terbuka luas. Artinya, kalau kita tidak menunaikan perintah salat Jumat yang hukumnya wajib tanpa alasan yang dibenarkan syara, tentu berdosalah kita dan kesempatan yang hilang itu takkan ditemui lagi. Berdosa, artinya kerugian. Jika kewajiban  beribadah telah selesai, bersegera pulalah meraup peluang duniawi, jangan berleha-leha agar keberuntungan materi tidak hilang. Berkaitan dengan itu,  diterangkan dalam ayat berikutnya yang artinya:
“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Surat Al Jumu’ah ayat 10).
Mari kita perhatikan ayat ini dengan seksama. Betapa Allah memberikan jalan hidup yang berkeseimbangan antara menunaikan tugas beribadah dan mencari nafkah yang nilainya merupakan keberuntungan sejati. Kalau kita runut, ayat ini menuntun kita agar prioritas utama yang harus dijadikan pijakan hidup adalah berkomunikasi dengan Allah (hablumminallah). Tunaikan segala perintah Allah, jauhi laranganNya. Lalu, jangan lupakan bagian di dunia yang menghampar di muka bumi. Nah ketika mencari rezeki yang hakikatnya meraih anugerah Ilahi itu, harus dibarengi dengan konsep “dzikrullah”, senantiasa ingat kepada Allah. Inilah kunci keuntungan bagi mumkin. Dengan senantiasa mengingat Allah, kita akan terlindung dari hal-hal negatif. Orang berdagang takkan menipu karena menipu diharamkan Allah. Kalau berdagang lalu menipu, berarti dagangnya tidak dibarengi dengan dzikrullah. Menjadi pegawai kantoran takkan korupsi karena korupsi itu diharamkan Allah. Kalau masih saja korupsi, berarti menjadi pegawainya tidak mengacu pada prinsip dzikrullah. Inilah barangkali mengapa kasus korupsi di negeri ini begitu merebak yang ironisnya dilakukan orang-orang yang mengaku sebagai muslim.
Semoga, kita terhindar dari perbuatan buruk tersebut. Amin.***

 

Belum Ada Tanggapan to “RELIGI: BINA USAHA ISLAMI (1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: