Pendicitrawarga's Blog
Blog Es Campur

Esek-esek Binal (6): Tes Keperawanan Ala Mas Boy

SIAPA pun pasti ogah diam dalam penjara. Maklum, segala sesuatu dibatasi. Meski selalu dikawal, bukan berarti orang gedean, tetapi justru diawasi agar tidak kabur.Makanya, dikawal di dalam penjara, berarti bikin malu-maluin keluarga. Itu sebabnya, siapa yang betah dipenjara? Tak terkecuali Si Boy (28). Sebut saja begitu tokoh esek-esek binal kita kali ini
Yang paling dibayangkan  pria berusia 28 tahun ini adalah menyalurkan hasrat esek-eseknya. Sebagai jalu normal,  Boy kerap memimpikan berduaan dengan wanita untuk saling memadu kasih, bukan ngadu panco layaknya dalam penjara dengan sesama napi.
Makanya, Si Mas penduduk Minggir, Sleman, ini saat bebas dari penjara  dengan predikat residivis adalah wanita. Sayangnya, Boy tak punya bini. Di lain pihak ‘burung’-nya terus berontak ingin sesuatu. Begitu kasihan sama burung peliharaannya, ia nekat akan mencari wadon  yang mau dijadikan partner esek-eseknya. Punya sih pikiran burungnya agar mematuk  ‘surabi haneut’ yang dijajakan cewek-cewek di malam hari. Tapi ‘kan harus bayar. Burung Boy, eh Si Boy pengennya yang gratisan, tapi masih gres.
Gayung bersambut, Boy melihat tetangganya punya anak wanita yang lumayan bahenol dan dijamin masih gres karena Putri, begitu kita sebut korban esek-esek binal Boy ini usianya baru sweet seventen.  Belia macem Putri inilah yang selalu diimpikan Boy. Trik pun mulai dirancang. Sebagai residivis, tentu saja cetek bagi Boy untuk urusan tipu menipu ini.
Suatu saat, di kecerahan malam nan indah, ada pasar malam. Aksi Boy dimulai di sini.  Kebetulan, Nok Putri tak melewatkan keramaian  pasar malam ini dengan maksud berbelanja apa saja. Namun, sebagai wadon lepas ABG, sejatinya ia mengharap ada yang ngeceng. Tampaknya Putri tengah hoki. Baru saja merangsek di kerumunan orang yang lalu lalang,  sudah ada yang mendekati. Tat kala dilihat, manahoreng Si Kang Boy, tetangganya. Tentu saja Putri tak menyangka bahwa Boy ada maunya. Masak iya dengan tetangga pacaran. Iya sih ada lagu Pacar 5 langkah, tapi Putri sungguh tak mengharap dicantol Si Mas Boy. Akan tetapi, kenyataannya Boy mendekati sembari lempar senyum. Senyuman yang laen daripada yang laen, bukan sekadar sapaan terhadap tetangga. Putri bingung, ragu, dan sedikit gelisah. Baru yakin Boy sungguh-sungguh ngajak memadu keintiman, ketika Boy terus nempel kayak perangko. Putri tak berdaya, malah buah cinta mulai tumbuh. Meski tahu Si Mas Boy pernah berurusan dengan jeruji besi, Putri berkeyakinan kini dia telah berubah. Maka, Mas Boy pun tampak bagai Arjuna.
Trik Boy dimulai dari ngasih jajan. Putri pun  mau saja. Apa salahnya terima pemberian orang. Usai keliling-keliling pasar malam, Boy ngajak Putri pulang. Katanya tak baik begadang. Padahal, sejatinya  Boy sudah kebelet pengen sesuatu.  Putri pun menurut dan mengajak langsung diantar pulang ke rumahnya. Akan tetapi,  Boy mengajak Putri ke rumahnya dulu. Tanpa menaruh curiga, Putri manut. Dia yakin, Boy bukan lagi residivis, boleh jadi Resi Bisma sehingga yakin pula bahwa  Boy bakal jadi suami yang baik dengan aturan dan prosedur formal plus halal.
Itu bisikan hati Putri. Lain lagi dengan Boy. Kebetulan di rumahnya tak ada siapa-siapa. Maka, Boy to the point minta jatah gratis esek-esek pada Putri.
“Ayo dong Put, dikiiit…..aja,” bujuk Boy dengan napas ngos-ngosan. Sementara si burung perkututnya terus kelepak-kelepek. Melihat gelagat cunihin, keruan Putri berontak.
“Jangan dong Mas, kita ‘kan belum nikah.”
“Ya, enggak apa-apa dong say. Hitung-hitung tes keperawanan. ‘Kan anggota dewan juga mengharuskan tes keperawanan. Ide bagus tuh! Kalau Putri benar-benar perawan, kita terusin kawin. Kalau udah bobol juga kagak apa-apa…” ujar Boy sungguh kurang ajar. Meski ditolak, Boy keukeuh minta jatah. Putri bingung, Boy pun kian linglung.
Tadinya, Boy akan beraksi nekat dengan cara memerkosa Putri. Namun, mengingat dan menimbang anak tetangga, Boy mengurungkan niatnya. Namun, kahayang keukeuhnya tak bisa dibendung.
“Okelah Put, kalo enggak mau dfites keperawanan mah kita ‘karaokean’ aja dah! Yang ini jangan ditolak, kalau ditolak entar lu tahu rasa!” Ujar Boy sembari mengancam. Lantas mendekap Putri dengan wajah beringas sebagaimana residivis. Keruan, Putri jadi takut bukan alang kepalang, terutama mendengar ancaman  Si Boy yang disangka Resi Bisma ternyata kembali pada wujud aslinya sebagai residivis. Takut akan ancaman, akhirnya Putri menuruti kemauan Boy dengan mengkaraoke  ‘si atah adol’-nya punya Si Mas Boy.
Habis karaokean, Boy merasa puas. Ia berharap lain kali tak sebatas itu. Putri benar-benar murka telah dilecehkan. Ia bersumpah akan balas dendam. Wong disuruh gituan belum saatnya, kagak dibayar lagi.
Dengan hati gumbira, Boy mangantar pulang Putri. Lalu ia pulang ke rumahnya lagi dan langsung nyungsep molor. Ia pikir perbuatannya  aman-aman saja alias takkan kena getahnya. Padahal, saat itu juga Putri buka kartu tentang apa yang telah dilakukan Boy apa adanya. Kedua orangtua Putri sangat marah. Maka, saat itu juga lapor ke polisi. Polisi sigap mau nangkap Boy di rumahnya. Sayang, si jalu porno ini sudah kabur. Polisi tak tinggal diam, dengan bantuan warga sekitar, langsung mengejar Boy hingga akhirnya tertangkap. Maka,  bogem mentah pun sempat menclok di muka Boy hingga bengep, lalu dibawa ke Polres Sleman untuk mempertanggungjawabkan perbuatan terkutuknya itu. (Makanya, Boy,  hasrat esek-esek jangan diumbar begitu. Nikahi wanita  baik-baik, entar juga mau gimana-gimana bebas tanpa ada yang gangguin. Para wanita, tetap waspadai lelaki macam Si Mas Boy).
(Direka ulang oleh Kang Fendy Sy. Citrawarga – Bandung dari berita SKH “Kedaulatan Rakyat” edisi Jumat  23 Juli 2010).***

Belum Ada Tanggapan to “Esek-esek Binal (6): Tes Keperawanan Ala Mas Boy”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: